Dilema Tengah Malam

Sudah 2017 ternyata dan saya gak sadar tahun sudah berganti. Banyak kegundahan yang merancau, merengek di kepala yang selalu ada di saat tengah malam macam begini. Hehe. Entahlah! Orang pemikir seperti saya apa-apa dibikin susah. Apa-apa dipikirin dan dikhawatirin. Sampai-sampai ibu saya sendiri pun dulu pernah bilang “Kamu tuh apa-apa dipikirin. Gak kayak anak lain. Pikiranmu harus dibebasin. Sana bergaul sama yang lain. Main ke mana kek. Jangan di kamar aja. Biar cepet gede kayak anak-anak lain. Tuh si anu mah cepet gedenya. Kamu kecil aja!.” Whattttt??? Hahaha. Paling gak suka kalo udah dibanding-bandingin sama teman-teman saya. Apalagi yang ngebandingin itu ibu saya sendiri. Tapi ya, mungkin ibu saya kasihan aja kali sama saya sendiri yang memang agak kuper. Tiap hari mainannya di kamar mulu, di rumah mulu. Kalo ga mainin komputer, nonton tv, atau paling baca buku dan belajar. Begitulah kira-kira kerjaan saya dari SD, SMP, sampai SMA. Bisa dibilang cukup introvert. Bergaul sama tetangga pun ogah-ogahan. Seperti punya dunia sendiri. Haha. Mungkin dulu bisa dibilang saya itu tipe orang low self-esteem, yang merasa kalo bergaul pasti jadi orang yang paling gak dianggep. Ngerasa bodoh banget kalo masalah berinteraksi dengan orang lain. Apalagi kalo ada beban buat bikin percakapan menjadi seru. Gak bisa! Failed mulu. That was my  weakness!!! Entah juga, saya selalu merasa kalo orang lain mungkin merasa gak asyik kalo bergaul sama saya.  Dan terlalu merasa diri ini nothing.

Then, the question, why did I write this? Haha. Gak tahu juga. Mungkin bisa dibilang cuma pengen curhat. Mungkin juga bisa dibilang cuma mau mengisi dilema tengah malam.

Dilema? Dilema atau galau bang? Hahaha Mungkin. Bisa dibilang. Karena saat ini saya berada di posisi kegalauan dan kedilemaan sampai saya malas buat tidur dan mencoba buat nulis di blog. Meskipun yah. Saya gak jago tulis-menulis. Jadi ya entah ini mungkin saya ingin mencoba aja iseng-iseng berhadiah kan ya nulis di blog. *apasihbang 

Oke jadi begini….

Apa?

Perihal resolusi tahun 2017. Saya mau mulai ngeblog. Mau mulai tulis-menulis. Mau belajar nulis. Mau dan pengen bisa nulis. Mau berlatih dan berlatih. Jadi, daripada banyak hal yang saya pikirin terus-terusan dan tak berujung. Dan daripada menuruti kedilemaan dan kegalauan tengah malam. Baiknya saya tuangkan saja ke dalam tulisan. Meskipun ya tulisan amburadul dan gak jelas bablas gini. Tapi ya… POKOKE YANG PENTING NULIS WAE! Hahaha.

Yah, jadi itulah dilema tengah malam tadi. Yuhuuu! Daku berniat buat M-E-N-U-L-I-S. YEAYYYY! Mohon bantuannya ya. Siapa pun yang membaca tulisan ini. Hehehe. Pokoknya jangan bingung. Jangan ngerutin kening. Jangan heran. Jangan ketawa lihat tulisan yang amburadul ini. Butuh support nih. Hehehe. Suport saya ya? Iya ya? *blink *kedipin mata.

 

Akhir kata,

…..SEKIAN.

 

 

Badut

Cerpen ini membuat saya bertanya-tanya mengenai beberapa hal. Mengapa cerpen itu harus memakai tokoh yang bernama Fahri(nama yang sama dengan nama saya hehe), lalu kenapa harus seorang badut, dan kenapa di akhir cerita si anak kecil penggemar badut itu justru ingin menjadi badut? Kenapa ya? Entahlah, mungkin hanya saya yang terlalu berpikiran negatif. Hmmm. Oh ya, saya pikir cerpen satu ini juga memiliki suatu “sindiran khusus” untuk masyarakat dewasa ini. Ah entah, entahlah, apa hanya saya saja yang berlebihan. Hehehe.

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 14 Agustus 2016)

Badut ilustrasi Pata Areadi Badut ilustrasi Pata Areadi

SEPULUH tahun sudah Fahri menjalani kehidupannya sebagai badut di sebuah kelompok sirkus keliling. Dari kota ke kota Fahri dan kelompoknya setia mengais rejeki. Banyak orang mengenal nama Fahri karena kelompok sirkus itu juga kerap muncul di koran. Formasi para pemainnya, nama dan perannya, tentu saja diingat baik, lekat di hati masyarakat. Tentu juga, banyak aksi dalam sirkus keliling itu yang ditunggu-tunggu. Ada atraksi menegangkan antara orang dan harimau. Orang dan ular. Orang dan gajah. Orang dan lingkaran api, dan sebagainya.

Namun, diam-diam, di antara semua atraksi menegangkan itu, yang paling ditunggu adalah aksi Fahri. Aksi Fahri selalu mengundang gelak tawa. Memang, ia akan selalu beraksi sebagai pemecah suasana tegang, setelah atraksi-atraksi sebelumnya yang sungguh mendebarkan.

Lihat pos aslinya 1.280 kata lagi

Menuju Abashiri

Cerpen buah karya Shiga Naoya yang satu ini, menurut saya unik. Bagaimana menurutmu?

FIKSI LOTUS

Shiga Naoya

Di Utsunomiya, aku berkata kepada seorang teman, “Aku akan mampir ke tempatmu dalam perjalananku kembali dari Nikko.” Dia membalas, “Ajak aku sekalian — aku akan menemanimu ke Nikko.”

Saat itu, meski di bulan Agustus, cuaca terasa sangat panas. Aku memilih naik kereta yang berangkat pukul 4:20 sore dan berencana untuk turun di stasiun tidak jauh dari tempat tinggal temanku. Kereta itu bertujuan ke Aomori. Begitu aku tiba di Stasiun Ueno, segerombolan orang terlihat mengerumuni pintu gerbang tempat penjualan tiket. Aku pun segera bergabung dengan mereka.

Ketika bel berdentang, pintu gerbang itu langsung dibuka dari dalam. Suara alat pembolong tiket mulai mengisi ruangan, berdecak tanpa henti. Orang-orang meringis seraya menarik koper-koper mereka yang terhimpit di antara pagar; dan sejumlah orang terdorong keluar dari gerombolan antrian panik berusaha untuk menyeruak masuk kembali ke dalam gerombolan yang sama; namun tidak sedikit yang menghalang-halangi mereka — ini bukan hal yang aneh di tengah…

Lihat pos aslinya 2.810 kata lagi

Hari yang Sempurna untuk Kangguru

Cerpen Karya Haruki Murakami, salah seorang penulis Jepang populer dewasa ini.

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013)

Hari yang Sempurna untuk Kangguru ilustrasi Yuyun Nurrachman

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini? 

Lihat pos aslinya 1.181 kata lagi

Ketika Cinta Berbuah Surga

Di tanah Kurdistan, ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki putera; seorang anak laiki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah, keitika dia mengajari anaknya itu membaca al-Quran. Sang raja juga menceritakan kepadannya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnyaa bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya.

Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya, tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya.

Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”

Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.

“Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surge?” tanyanya dengan nada penasaran.

“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tetapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dengan dasar itu, kau pun bisa mencintainnya dengan penuh keikhlasan; karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”

“Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.

Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapa pun yang kau anggap cocok, untuk menjadi temanmu saat makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarlah mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur, jika kau bisa mengetahui perilaku lebih dari itu.”

Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktikan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula, dia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu-persatu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangannya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji; memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.

Di antara teman anak raja itu, ada seorang yang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat, sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka, dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan anak-anak sebelumnya. Dia menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.

Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”

Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejatinya.

Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja dia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat.

Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa piring dengan berisi tiga telur rebus di atasnya.

“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum,” kata Said seraya meletakan piring itu di atas meja.

Lalu, Said masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu per satu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke mmeja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Dia kaget.

“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.

“Telah aku makan.”

“Semuanya?”

“Ya, habis aku lapar sekali.”

Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa-

Said merasa jengkel kepada anak-anak di sekitar sana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia akwan. Mereka tidak pantas dijadikan teman sejatinya. Akhirnya, dia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.

***

Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, lading, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.

Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemmu dengan seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba digubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan.

Selesai shalat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?”

“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”

Lalau, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.

Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak seorang kaya, malah mungkin bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”

Said menyahut,”Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman dengannku? Mengapa tidak kita coba beberapa waktu dulu? Kau nanti bisa menilai, apakah kita cocok atau tidak menjadi temanmu.”

“Baiklah kalu begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman yang seia-sekata.”

Said menyepakati syarat yang diajukan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, merek bermain bersama; pergi ke hutan bersama, memancing bersama, dan beburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah, dan memanjat pohon di hutan. Said dangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada, dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.

Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.

Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan padanya.

Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di istana. Oleh temannya itu, dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; anatara daun dan buah yang bida dimakan, yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.

“Dengan mengenal jenis buah  dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.

Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti di ibukota kerajaan. Ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.

Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya mmakan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.

“Pergilah ke ibukota, berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana. Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata Said sambil tersenyum.

Insya Allah aku akan datang,” jawab anak pencari kayu itu.

***

Pagi harinya, anak pencarri kayu itu sampai juga ke istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulasanya, dia ragu untuk masuk ke istana. Akan tetapi, jika mengingat k ebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.

Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu bakar itu sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makann selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Selama menunggu, dia tidak memikirkan makanan sama sekali. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.

Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan, senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.

Akhirnya, tiga butir telur masuk pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara itu, Said mengupas dengan cepat dan menyanntapnya. Kemudian, dengan sengaja Said mengambil telur yang ketiga. Dia mengupasnya dengan cepat, dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakan sendiri atau…?

Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu dia membelah telur itu jadi dua; yang satu dia pegang, dan yang satunya lagi dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.

Lalu, Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”

Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah Swt.

Karena kekuatan cinta itu, memreka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, Syiria, Irak, Mesri, dan Yaman.

Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil; ayah Said, meinggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Mmenteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seprjuanngan dan penasihat raja yang tiada duanya.

Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan shalat tahajud dan menbaca al-Quran bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya; baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

———————————————————————-

Cerita di atas diperoleh dari buku “Ketika Cinta Berbuah Surga”, disusun oleh Habbiburrahman El Shirazy melalui MQS Publishing.